Bondowoso, 27 Februari 2013 Pukul Tujuh pagi. Setelah mandi dan beberes, saya dan Haidar Check-Out dari hotel Slamet Bondowoso untuk melanjutkan perjalanan menuju Kawah Ijen. Kami berjalan kaki dari hotel menuju terminal Bondowoso. Sesampainya di terminal kami menyempatkan diri untuk sarapan di warung yang kemarin terlebih dahulu.
![]() |
| Stasiun Bondowoso, saksi bisu insiden Gerbong Maut yang terjadi pada tahun 1947 |
Tepat pukul sembilan pagi, "taxi" yang akan mengantar kami ke Sempol berangkat. Awalnya kami akan duduk ditengah, tapi kami batalkan dan kami memilih duduk didepan, di sebelah pak sopir. Alhamdulillah, thanks God. Pilihan kami tidak salah karna di tengah perjalanan pak sopir mengangkut "penumpang" berupa pupuk berkarung-karung dan juga beberapa ekor ayam. Selain kami, dan "penumpang" di bagian belakang juga ada beberapa penumpang(dalam arti sebenarnya) sekitar lima orang yang berangkat bersama kami dari terminal Bondowoso. Dan bertambah beberapa penumpang dan "penumpang" lainnya ditengah perjalanan.
Perjalanan dari terminal Bondowoso sampai di Sempol menghabiskan waktu sekitar dua setengah jam. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan sawah dan perbukitan yang sangat indah. Subhanalloh, begitu indah ciptaan-Nya. Begitu indah lukisan yang terhampar didepan kami.
Fyi : bagi teman-teman yang akan menuju Kawah Ijen dengan menggunakan "taxi" seperti kami, mungkin bisa memilih untuk duduk didepan apabila ber-solo traveling, kecuali ingin berbaur dengan "penumpang" lainnya. :D
Sekitar pukul setengah dua belasan, "taxi" sampai juga di Sempol. Ketika kami akan turun pak sopir memberikan saran kepada kami untuk turun di Margahayu saja yang berjarak lebih dekat dengan Paltuding. Dan kami pun menyetujuinya tanpa berpikir panjang. :D
Fyi : Sempol dan Margahayu adalah nama kelurahan atau desa terakhir sebelum kita menuju Kawah Ijen. Setelah Margahayu yang akan kita jumpai hanya perbukitan serta kebun kopi dan hutan pinus yang sangat mengagumkan. Disana terdapat terminal yang berupa tanah lapang tempat untuk menurunkan penumpang.
Kami pun turun di terminal Margahayu, setelah sebelumnya membayar sebesar tiga puluh ribu rupiah untuk berdua kepada pak sopir. Ketika turun pak sopir memberitahukan kepada kami, apabila kami ingin berjalan kaki dari Margahayu ke Paltuding jarak tempuhnya hanya sekitar satu jam dengan berjalan kaki.
Wiiiihh... Hanya satu jam berjalan kaki saja?? begitu yang ada dalam pikiran kami berdua, dan dengan mantap kami memutuskan untuk berjalan kaki saja karna perjalanan selama satu jam sangat-sangat dekat menurut kami berdua daripada harus membayar ojek sebesar empat puluh sampai lima puluh ribu per orang.
![]() |
| Setelah turun dari "taxi" |
Sekitar empat puluh lima menit kami berjalan kaki, saya mulai merasa
kelelahan. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di pinggir jalan.
Tiba-tiba ada beberapa motor yang mendatangi kami dan menawarkan jasa ojek
sampai Paltuding. Dan kami pun bertanya berapa harga ojeknya sampai ke
Paltuding, mereka menjawab “empat puluh ribu rupiah sampai di Paltuding”. Wah,
mahal sekali menurut kami karena kami masih memakai asumsi jarak Margahayu ke
Paltuding adalah satu jam saja menurut sopir “taxi” kami tadi. Jadilah kami
menolak tawaran tukang ojeknya (yang pada akhirnya kami agak menyesal karna
menolak tawaran harga tersebut:D)
Kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki kembali. Sejam telah
berlalu, belum ada tanda-tanda akan tiba di Paltuding. Kami pun beristirahat
kembali. Huufftt..
Sejam kedua telah kami lewati, belum juga menunjukkan ada tanda-tanda akan
tiba di Paltuding. Hujan pun mulai turun. Alhamdulillah, kami melihat sebuah
gubuk yang ada ditengah sawah. Segera saja kami berlari menuju gubuk tersebut. Di
gubuk itu kami bertemu petani yang sedang memanen kentang. Ya, kentang adalah
salah satu penghasilan dari petani yang ada di daerah Ijen selain Kubis dan
tentu saja kopi Arabica yang ada di daerah Jampit.
Perkebunan kopi Jampit, adalah agrowisata di Bondowoso yang dikelola oleh
PTPN VII Kalista Jampit. Luas perkebunan kopi Jampit ini adalah 4000Ha dan
terletak pada ketinggian 900 meter dari permukaan laut.
Hujan pun semakin deras, tapi petani-petani itu tetap saja memanen kentang
tanpa memperdulikan hujan yang turun sangat deras dan cuaca yang sangat dingin.
Kami pun menyempatkan diri untuk berbincang dengan petani-petani itu ketika
mereka beristirahat.
Sekitar setengah jam lebih, hujan pun mulai reda dan kami pun berpamitan
dengan mereka dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali.
![]() |
| Hujan deras menyambut kedatangan kami |
Finally, setelah hampir empat jam perjalanan, tanjakan-tanjakan dan
beberapa kali berhenti untuk beristirahat, sampai juga di Paltuding. Paltuding
oh Paltuding... Akhirnya kami berjumpa denganmu.
Fyi
: jadi kalau teman-teman ingin berbackpacker ke kawah Ijen yang lebih murah
tanpa mengeluarkan ongkos ojek sebesar lima puluh sampai enam puluh ribu, bisa
mengikuti cara kami yaitu dengan turun di Margahayu-dengan ongkos yang sama
seperti Sempol-kemudian bisa dilanjutkan trekking sekitar dua belas
kilometer menuju Paltuding dengan pemandangan yang sangat indah sepanjang
perjalanan.
Sesampainya disana, kami pun langsung menuju warung yang berwarna hijau
yang ada di pojokan jalan. Dan segera kami memesan kopi panas untuk
menghangatkan badan kami. Disana kami bertemu dengan beberapa turis yang
berasal dari Prancis, mereka baru saja turun dari kawah ketika kami tiba. Dan
kami pun berkenalan dengan Pak Nur, guide lokal yang juga masih ada
hubungan sodara dengan Pak Amar pemilik warung tempat kami singgah.
Pak Nur ini sangat ramah dan baik orangnya, kami mengobrol banyak tentang
berbagai hal termasuk seputar kawah Ijen dan penambang-penambang yang ada
disana. Menurut beliau, bulan-bulan yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara
sekitar bulan Juni sampai bulan November. Di bulan-bulan itu pengunjung bisa
mencapai ratusan per harinya. Dan wisatawan asing yang paling banyak berasal
dari negara Prancis dan beberapa negara Eropa lainnya.
Lumayan lama juga kami mengobrol, tak terasa hari semakin gelap. Kami pun
memutuskan untuk membuka kamar terlebih dahulu. Ketika kami akan menuju pondok
penginapan, ada seorang bule yang mendatangi kami. Dia bertanya apakah kami
juga seorang turis yang akan menginap disana. Dan saya jawab tentu saja kami
juga akan menginap disini,kemudian kami pun saling memperkenalkan diri. Dia
adalah seorang bule yang berasal dari Hungaria tapi kuliah di Australia. Dia
datang bersama pacarnya yang orang Birma. Saya lupa nama si bule Hungaria ini
(i’m sorry my friend, i forgot ur name :D) sedangkan pacarnya yang orang Birma
tapi juga menetap di Australia bernama Pramila Chakma.
Setelah memperkenalkan diri kami pun menuju pondok tempat kami bermalam
malam ini. Ternyata hanya ada satu kamar yang tersisa di pondokan itu, dan saya
pun akhirnya memberikan kamar itu kepada kedua teman bule yang baru kami kenal
itu. Harga dari kamar itu adalah seratus lima puluh ribu rupiah. Karna sudah
tidak ada kamar yang tersisa lagi, akhirnya kami pun memutuskan untuk menaruh
tas kami di ruang tengah terlebih dahulu. Sebenarnya di pondokan itu ada tiga
kamar, tapi yang tersisa tinggal satu kamar. Yang satunya sudah dipesan oleh
pasangan bule juga yang laki-laki berasal dari Jerman bernama Sebastian dan
yang perempuan bernama Ginga berasal dari Italia. Sedangkan kamar yang satunya
lagi terkunci dan kuncinya entah ada dimana kata penjaganya. X_X
Si Pramila dan pacarnya ini datang ke kawah Ijen dengan menggunakan motor
setelah sebelumnya mereka mengunjungi gunung Bromo. Ketika tiba saya melihat
seluruh pakaian mereka basah, dan mereka ingin menjemur pakaiannya. Saya pun
bertanya kepada Pak Nur apakah ada tempat untuk mengeringkan pakaian. Dan Pak
Nur pun mempersilahkan kami untuk mengeringkan pakaian di rumah belakang warung
Pak Amar. Disana ada semacam perapian yang digunakan untuk memasak juga.
Akhirnya sambil mengeringkan pakaian kami pun saling berbincang-bincang. Ternyata
kami bisa cepat akrab dengan mereka. Mereka sangat enak sekali untuk diajak
ngobrol. Setelah pakaian mereka sudah lumayan kering, kami memutuskan untuk
mencari makan malam terlebih dahulu karena saya dan Haidar terakhir kali makan
adalah waktu pagi hari di terminal ketika akan berangkat ke Sempol.
Kami berempat pun menuju warung yang ada didekat lapangan yang ada di
Paltuding. Ketika akan menuju kesana kami bertemu dan berkenalan dengan
Sebastian dan Ginga. Akhirnya rombongan kami pun bertambah lagi dua orang
dengan kehadiran mereka. Saya, Haidar dan si Hungaria segera memesan nasi
goreng sedang si Pramila memilih menu mie goreng. Lumayan lahap kami memakan
makanan kami, selain karena udara yang lumayan dingin waktu itu kami sudah
sangat kelaparan.
Si Hungaria ini adalah seorang mahasiswa yang sedang belajar ilmu bisnis di
salah satu universitas Australia, sedangkan pacarnya si Pramila mengambil
kuliah jurusan Linguistik. Dan si Sebastian yang berasal dari Jerman merupakan
seorang Psikolog yang bekerja di salah satu rumah sakit disana, sedangkan si
Ginga pacarnya adalah seorang ahli biologi. Woowww.. Benar-benar senang saya
karena bisa bertemu dengan orang-orang hebat yang berasal dari negara lain.
Sekitar pukul sembilan malam, setelah kami selesai makan malam dan ngobrol
seru. Kami berenam pun memutuskan untuk kembali ke pondokan untuk beristirahat
karena Saya, Pramila, Haidar dan si bule Hungaria akan naik ke kawah sekitar
pukul satu pagi karena ingin melihat salah satu keajaiban dunia yang cuma ada
di kawah Ijen ini yaitu Blue Fire. Sedangkan si Sebastian dan Ginga akan
menyusul setelahnya karena mereka hanya ingin menikmati keindahan sunrisenya
saja.
Semenjak sore tadi hujan turun terus, membuat udara semakin dingin saja.
Berkali-kali saya terbangun karena kedinginan, tempat tidur kami berdua
hanyalah ruang tengah yang beralaskan karpet dengan masing-masing satu bantal
dan sarung yang kami bawa dari rumah. Brrrr... Tapi lumayanlah karena kami tidak
dicharges penginapan oleh pengelolanya yang membayar hanya teman-teman bule
kami. :D
Fyi
: Kalau mau penginapan gratis, boleh meniru cara kami juga yaitu berpartner
penginapan dengan bule dan rela untuk tidur dengan kedinginan :D
Tepat pukul
satu si Hungaria membangunkan kami berdua, kami pun segera bangun dan bersiap
untuk trekking menuju kawah Ijen. Setelah kami semua bersiap, kami
segera menuju warung Pak Amar dulu untuk bertemu dengan Pak Nur yang menjadi
guide kita selama trekking menuju kawah Ijen. Sebelum berangkat kami disediakan
teh panas oleh Pak Nur.
Sekitar
setengah dua kami pun memulai perjalanan kami, kami adalah rombongan yang
pertama berangkat untuk naik ke kawah. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan
penambang-penambang belerang. Dari informasi yang diberikan Pak Nur, biasanya
penambang-penambang itu mulai beraktifitas sekitar pukul dua belas malam.
Sehari mereka bisa bolak-balik hingga tiga kali, dengan beban sekali angkut
belerang kurang lebih sekitar tujuh puluh kilogram. Sebuah ironi, dengan
pekerjaan yang sangat berat dan sangat beresiko upah yang mereka peroleh hanya
sebesar tujuh ratus delapan puluh empat rupiah untuk per kilogram belerangnya.
Dari
Paltuding menuju kawah Ijen jaraknya sekitar tiga kilometer, dengan estimasi
waktu sekitar dua jam perjalanan (waktu normalnya). Tapi karena saya lumayan
sering berhenti untuk beristirahat, akhirnya saya memutuskan untuk menyuruh si
bule Hungaria dan Pramila dengan di temani oleh Pak Nur untuk naik duluan.
Sedangkan saya dan Haidar berjalan lebih pelan. :D
![]() |
| Fullmoon from the top of Ijen Crater |
Sekitar
pukul empat seperempat saya dan Haidar tiba di puncak. Hari masih gelap diatas,
dan udara semakin dingin. Untungnya kegelapan pagi itu tidak terlalu pekat
karena masih ada cahaya bulan penuh yang menemani kami. Kami pun beristirahat
sejenak melepas lelah. Ketika kami beristirahat datang seorang bule yang
berasal dari Malaysia - yang kemarin sore bertemu di warung Pak Amar - dengan
ditemani seorang pemandu.
Dari puncak
kawah kami bisa melihat warna biru di bawah kami yang ada di pinggir kawah,
warna biru itu adalah Blue Fire yang sangat menakjubkan itu. Jarak dari
puncak kawah untuk menuju Blue Fire
sekitar tujuh ratusan meter menuju bawah dengan jalur yang sangat terjal
– yang juga merupakan jalur yang dilewati para penambang untuk menambang
belerang.
Karena sudah
sangat capek, kami pun memutuskan untuk tidak turun ke Blue Fire itu.
Sambil menunggu sunrise tiba, kami beristirahat dan tiduran. Pagi itu, udara
semakin dingin dengan asap belerang yang sangat pekat. Merupakan perpaduan yang
sangat hebat untuk membuat kami sesak napas. Kami hanya berdua di puncak kawah
ketika itu, mungkin hanya ada beberapa penambang yang lewat untuk menambang
belerang. Sekitar pukul lima pagi kami memutuskan untuk turun dan menunggu
mereka berdua di pos penimbangan belerang yang ada ditengah jalur pendakian.
Ketika kami
dalam perjalanan turun, saya bertemu dengan Sebastian dan juga Ginga yang baru
akan naik. Setelah say “hello” saya berkata akan menunggu mereka berempat di
pos penimbangan. Sesampainya disana, saya dan Haidar segera memesan teh panas
dan juga popmie untuk menghangatkan badan kami. Sambil menunggu mereka
berempat, saya menyempatkan diri untuk mengamati kesibukan para
penambang-penambang itu. Sebagian besar penambang itu berasal dari daerah
Banyuwangi, banyak dari mereka yang menggunakan bahasa Osing. Sebagian lagi
berbahasa Madura.
Kami menunggu
kurang lebih sekitar dua setengah jam sampai mereka turun. Selama menunggu,
banyak juga bule yang mulai naik, ada yang dari Prancis, Amerika, Jepang dan
beberapa dari Eropa. Setelah mereka tiba di pos tersebut, saya menyilahkan
mereka untuk beristirahat sambil minum teh terlebih dahulu.
![]() |
| Dawn at Ijen |
![]() |
| Sunrise |
![]() |
| Lukisan indah |
Sekitar
pukul sembilan kami berlima - tanpa Sebastian dan Ginga, karena mereka sudah
turun duluan – beranjak turun. Perjalanan turun lebih enak menurut saya
daripada perjalanan waktu naik, karena tidak membutuhkan tenaga yang terlalu
besar. Heheheheee....
![]() |
| Penambang belerang sedang menimbang belerang mereka |
Sesampainya
dibawah, kami menyempatkan untuk berfoto bersama-sama. Ya, ternyata kami lupa
untuk berfoto bersama-sama, palingan waktu kami mau berangkat kami masih
menyempatkan foto bersama di depan perapian. Setelah berfoto bersama, kami pun
segera berkemas-kemas. Sebastian dan Ginga akan melanjutkan perjalanan menuju
Bromo, teman kami si Hungaria dan pacarnya akan melanjutkan perjalanan menuju
pantai Sukamade di Banyuwangi, sedangkan saya dan Haidar akan kembali ke Surabaya.
Waktu
berpisah pun tiba, berat sekali rasanya untuk berpisah dengan mereka berempat
terutama dengan si Hungaria dan pacarnya yang sudah seperti teman lama bagi
saya. Rombongan yang pertama berangkat adalah si Sebastian dan Ginga. Kemudian
dilanjut dengan si Hungaria dan pacarnya. Sedangkan saya dan Haidar masih
menunggu mobil dari sodara pak Amar yang akan mengantar kami sampai di Sempol. Kami
merasa waktu begitu cepat berlalu, setelah bertukar alamat e-mail dan saling
berjanji untuk mengunjungi rumah kami masing-masing, akhirnya kami pun
berpisah.
Pukul
sebelas akhirnya saya dan Haidar berangkat menuju Sempol, setelah berpamitan
dengan keluarga pak Amar dan pak Nur. Saya mengucapkan banyak terima kasih buat
pak Amar dan pak Nur yang telah menjamu dan melayani kami dengan sangat ramah
ketika kami berada disana. Ternyata, perjalanan dari Paltuding ke Sempol dengan
menggunakan mobil sangat singkat, hanya sekitar empat puluh menitan saja
bandingkan dengan perjalanan kami kemaren yang sampai empat jam perjalanan. :D
![]() |
| Berfoto didepan penginapan kami sebelum berpisah |
Sesampainya
di Sempol kami diturunkan di halte untuk berganti dengan “taksi” yang akan
membawa kami ke terminal Bondowoso. Setelah menunggu sekitar dua jam lebih
ternyata “taksi”nya tidak juga datang, kami mulai panik karena hari mulai
beranjak sore. Untung saja ada mobil pick up yang lewat, saya pun berinisiatif
untuk memberhentikannya dan meminta tumpangan sampai ke terminal.
Pukul
setengah empat sore kami tiba di terminal Bondowoso. Tempat yang saya tuju
untuk pertama kali nya adalah toilet umum, yah, toilet umum karena sejak
semalam saya belum buang air kecil (semoga problem pompa air yang ada di Ijen
segera terpecahkan). Tepat pukul empat sore, bus yang akan membawa kami kembali
ke Surabaya berangkat. Sore itu kami menggunakan bus Akas yang akan langsung
menuju Surabaya tanpa perlu berganti bus di Probolinggo terlebih dahulu seperti
waktu kami berangkat kemarin. Harga tiket bus Akas ini adalah dua puluh delapan
ribu rupiah saja, lebih murah dua ribu daripada perjalanan bus kami waktu
berangkat.
Pukul
sepuluh malam kami sampai di terminal Bungurasih Surabaya, kami pun segera
menuju tempat parkir motor untuk mengambil motor dan kemudian mampir untuk
makan malam dan minum STMJ terlebih dahulu karena sejak pagi kami belum makan
apa-apa. Heheheee...
Sesampainya
dirumah saya segera bersih-bersih dan beristirahat dan berakhir pula perjalanan
saya kali ini....












No comments:
Post a Comment