Tuesday, March 19, 2013

7 Tempat Eksotik di Jawa Timur



Jawa Timur kaya akan obyek wisata yang sangat menarik, berikut akan saya tampilkan 7 Tempat Eksotik yang ada di Jawa Timur versi saya pribadi.. :D 
Just enjoy it guys.. :)

#1 Taman Nasional Baluran, the Africa Van Java
The Africa Van Java
Taman nasional Baluran terletak di timur Pulau Jawa, tepatnya di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Taman nasional ini mempunyai kekayaan alam dan flora dan fauna yang melimpah. Taman Nasional Baluran memiliki luas 25.000 ha. Pesona alam yang bisa Anda jumpai di taman nasional ini adalah hamparan luas padang savana, hutan dan pantai yang mempesona. Ratusan hewan siap menyambut petualangan Anda, yaitu rusa, kijang, banteng, kerbau, macan tutul, aneka burung dan masih banyak lagi. Flora di Taman Nasional Baluran pun tidak kalah menarik. Tidak hanya kekayaan flora dan fauna saja, tetapi ada beberapa bangunan-bangunan yang layak Anda kunjungi, seperti Candi Bang dan makam putra Maulana Malik Ibrahim. Selain itu, di Taman Nasional Baluran juga terdapat beberapa tempat penginapan yang disediakan oleh pihak taman nasional.
Beberapa fasilitas seperti kantor pengamatan satwa dan menara setinggi 10 meter yang bisa membuat Anda melihat hampir kawasan Taman Nasional Baluran, menjadikan petualangan Anda lebih menyenangkan. Suasana di taman nasional ini pun, seolah membuat diri Anda berada dalam kisah-kisah petualangan di Afrika. Perjalanan berjam-jam menjelajahi hamparan savana memaksa diri Anda untuk terus bertahan. Bukan sembarang petualangan biasa jika Anda berada di tempat ini. Sungguh suatu atmosfir yang sangat berbeda dengan suasana di kota. Banyak pelajaran dan keindahan dari alam yang bisa menjadi inspirasi Anda. Jangan lupa untuk berburu foto di Taman Nasional Baluran. Ratusan satwa yang Anda jumpai bisa menjadi objek foto yang menarik.
Setelah puas berjalan mengarungi Taman Nasional Baluran, jangan lupa untuk berkunjung ke Pantai Bama. Pantai Bama adalah oase bagi Taman nasional Baluran. Pantai ini memiliki pasir yang putih dan bersih, air yang jernih, kedalaman yang dangkal dan keindahan biota lautnya. Pantai Bama adalah penutup yang manis bagi petualangan Anda di Taman nasional Baluran.
Taman Nasional Baluran, seolah menjadi bukti bahwa Indonesia memang kaya akan keindahan alam

#2 Kawah Ijen
Beautiful Ijen
Kawah Ijen terletak diantara kota Bondowoso dan Banyuwangi, dan terletak diketinggian 2600m dpl. Kawah Ijen terkenal dengan "kawah hijau" yaitu danau kawah asam yang terbesar di dunia yang dapat menghasilkan 4ton belerang per harinya. Yang merupakan mata pencaharian bagi penambang belerang.  
Selain "kawah hijau" terdapat satu lagi fenomena alam yang hanya ada dua di dunia, yaitu "Blue Fire" atau api biru yang dapat kita nikmati sekitar pukul tiga pagi.
Perpaduan antara "kawah hijau", "Blue Fire" serta lalu lalang rutinitas penambang belerang adalah suguhan alam yang sangat menakjubkan dan wajib untuk kita kunjungi.
Blue Fire

#3 Pantai Sukamade Banyuwangi

The Turtle Beach
 Jika Anda ingin melihat langsung proses bertelurnya penyu, datanglah ke Pantai Sukamade di Taman Nasional Meru Betiri yang terletak di Jawa Timur. Tidak hanya bisa berfoto dengan penyu berukuran besar, tapi Anda juga bisa melepas puluhan tukik yang lucu.
Pantai Sukamade merupakan salah satu bagian dari Taman Nasional Meru Betiri yang masuk ke dalam dua kabupaten sekaligus, yaitu Jember dan Banyuwangi. Pantai ini merupakan zona pemanfaatan intensif untuk pengamatan telur penyu dan pelepasan tukik. Di pantai ini pengunjung dapat menyaksikan secara langsung saat penyu bertelur.
Untuk bisa melihat peristiwa penyu bertelur, kita harus menunggu sekitar jam 8 malam. Tidak perlu khawatir tentang penginapan, di tempat konservasi penyu juga menyediakan kamar sebagai tempat menginap. Bagi Anda yang berjiwa petualang, di sana tersedia juga area camping.
Setelah diberikan pengarahan di tempat konservasi penyu, Anda akan diajak untuk menyaksikan bertelurnya penyu. Jarak dari tempat konservasi penyu ke bibir pantai sejauh 1 km. Untuk bisa melihatnya, Anda harus hati-hati dan tidak boleh berisik. Sebab penyu bisa kembali lagi ke laut jika dirinya merasa ada sesuatu yang dianggap berbahaya.
Saat penyu bertelur merupakan saat yang tepat untuk berfoto bersamanya. Karena penyu tidak akan kembali ke laut jika ia sedang mengeluarkan telur-telur.

#4 Pantai Plengkung, the Paradise's of Surfers
G-Land

Jangan mengaku peselancar sejati jika belum mencicipi ombak Pantai Plengkung, Banyuwangi. Ketinggian ombak yang mencapai hingga 6 meter, memberikan sensasi dan tantangan tersendiri. Buktikan nyali Anda!
Berada di Selatan Jawa, tepatnya di Banyuwangi, Jawa Timur, Pantai Plengkung sudah menjadi surga bagi peselancar dunia. Anda harus melewati Taman Nasional Alas Purwo atau TNAP untuk tiba di pantai ini. Sepanjang perjalanan, Anda akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang serba hijau. Selain itu, Anda juga bisa melihat rusa, burung, babi hutan dan aneka hewan lainnya saat menuju pantai tersebut. Pantai Plengkung atau yang biasa disebut G-Land memang sangat menantang bagi para peselancar. Pantai yang menghadap Samudera Hindia ini, memiliki ketinggian ombak yang mencapai 4-6 meter. Biasanya ombak akan meninggi dari bulan Maret hingga Oktober.
Menurut situs resmi pariwisata Indonesia, indonesia.travel, ombak di Plengkung adalah nomor DUA setelah Hawaii. Selain di Plengkung, hanya Hawaii, Australia, dan Afrika Selatan saja yang memiliki ombak menantang seperti itu. Bagi Anda para peselancar, buktikan kehebatan Anda di sini. Jangan heran ketika Anda bertemu banyak peselancar dari berbagai negara di Pantai Plengkung, karena ombaknya yang sempurna sudah terkenal di seluruh dunia. Tidak hanya ombak saja, tetapi hamparan pasir putihnya di pinggir pantai akan membuat Anda nyaman. Pemandangan dan hutan-hutan yang hijau, akan menjadi refleksi tersendiri bagi Anda.
Pantai Plengkung sudah menjadi destinasi favorit di Indonesia. Kalau peselancar dunia berani menantang ombak di Plengkung, bagaimana dengan Anda?

#5 Goa Gong, Pacitan
Welcome to the "Goa Gong"
Colorfull
 Goa Gong terletak di Desa Bomo, Kecamatan Punung, Donorejo, sekitar 140 km arah selatan kota Solo atau 30 km arah Barat Daya Kota Pacitan. Dinamakan Goa Gong karena didalamnya terdapat sebuah batu yang jika dipukul akan menimbulkan bunyi seperti Gong yang ditabuh. Perjalanan menuju goa ini relatif mudah, dengan jalanan setapak yang sudah diperbaiki dengan baik.
Sepanjang jalan menuju Goa Gong akan melewati daerah perbukitan yang dengan goa-goa di dalamnya. Goa-goa di Pacitan ini pada umumnya terbentuk dari jenis batuan Karst, batu yang tampak hitam dan sangat keras. Pada awal mulanya Goa Gong diketemukan oleh dua orang penduduk lokal yang tanpa sengaja sedang ingin mencari sumber air. Jangan membayangkan keadaan goa yang gelap dan menakutkan, karena saat masuk ke mulut goa yang sejauh 300 M, pengunjung akan menikmati goa Gong ini dengan nyaman. Tidak benar-benar terang, tapi goa Gong di fasilitasi dengan cahaya lampu yang temaram di sepanjang jalan masuknya. Hal ini yang menjadikan goa Gong lain dari goa-goa yang lain di Pacitan.

#6 Air Terjun Madakaripura
Rainbow in Madakaripura
 Terletak di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tersembunyi antara tebing-tebing tinggi nan eksotis, terdapat sebuah air terjun. Konon, di tempat inilah Mahapatih Gajah Mada sering bertapa. Air terjun ini kemudian dinamakan Madakaripura.
Sepanjang perjalanan, Anda akan disuguhi pemandangan hutan hujan tropis yang natural. Gradasi hijau tua dan hijau muda berasal dari pepohonan dan tumbuhan lumut yang menempel di tebing-tebing terjal. Setelah satu kilometer melewati jalur berkelok, Anda akan dihadapkan dengan air terjun megah yang berada tepat di antara tebing-tebing.
Pemandangannya spektakuler. Ada total 7 air terjun dengan ketinggian berbeda. Air terjun utama punya ketinggian 200 meter, menghasilkan percikan air layaknya hujan. Letih yang Anda rasakan sepanjang perjalanan sirna sudah.
Di balik air terjun deras itu, terdapat sebuah gua. Anda hanya bisa mencapainya jika menyelam dari dasar kolam yang cukup dalam. Konon, inilah tempat Sang Mahapatih melarikan diri dari dunia luar untuk bersemedi.
Mengunjungi Air Terjun Madakaripura paling baik dilakukan pada musim panas. Pada pagi hingga sore hari, Anda bisa melihat warna-warni pelangi yang melintang di atas kepala. Mungkin, keindahan air terjun inilah yang dulu memikat hati Mahapatih Gajah Mada.

#7 Ranu Kumbolo, Surga di kaki Gunung Semeru
Sunrise in Ranu Kumbolo
 Terletak di ketinggian 2400mdpl, menjadi tempat perisitirahatan dan berkemah bagi pendaki yang akan menuju puncak Semeru.Perjalanan menuju tempat ini membutuhkan waktu 4-5 jam dengan medan yang sangat menantang. Setibanya disana,rasa lelah akan segera hilang dan berganti dg takjub akan keindahan ciptaanNya.Seperti oase yang menyegarkan,perpaduan antara alam yang hijau dan segarnya pemandangan danau dijamin akan menghilangkan semua beban yang kita punya. Tidak hanya itu,disana kita dapat melihat keindahan sunrise yang sangat cantik dan mempesona. Warna cahaya mentari yang keemasan terpantul pada permukaan air danau.




Sunday, March 10, 2013

Escape to the East, goes to Ijen Crater (Part 2)

Bondowoso, 27 Februari 2013 Pukul Tujuh pagi. Setelah mandi dan beberes, saya dan Haidar Check-Out dari hotel Slamet Bondowoso untuk melanjutkan perjalanan menuju Kawah Ijen. Kami berjalan kaki dari hotel menuju terminal Bondowoso. Sesampainya di terminal kami menyempatkan diri untuk sarapan di warung yang kemarin terlebih dahulu.
Stasiun Bondowoso, saksi bisu insiden Gerbong Maut yang terjadi pada tahun  1947
Tepat pukul sembilan pagi, "taxi" yang akan mengantar kami ke Sempol berangkat. Awalnya kami akan duduk ditengah, tapi kami batalkan dan kami memilih duduk didepan, di sebelah pak sopir. Alhamdulillah, thanks God. Pilihan kami tidak salah karna di tengah perjalanan pak sopir mengangkut "penumpang" berupa pupuk berkarung-karung dan juga beberapa ekor ayam. Selain kami, dan "penumpang" di bagian belakang juga ada beberapa penumpang(dalam arti sebenarnya) sekitar lima orang yang berangkat bersama kami dari terminal Bondowoso. Dan bertambah beberapa penumpang dan "penumpang" lainnya ditengah perjalanan.
Perjalanan dari terminal Bondowoso sampai di Sempol menghabiskan waktu sekitar dua setengah jam. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan sawah dan perbukitan yang sangat indah. Subhanalloh, begitu indah ciptaan-Nya. Begitu indah lukisan yang terhampar didepan kami.


Fyi : bagi teman-teman yang akan menuju Kawah Ijen dengan menggunakan "taxi" seperti kami, mungkin bisa memilih untuk duduk didepan apabila ber-solo traveling, kecuali ingin berbaur dengan "penumpang" lainnya. :D
Sekitar pukul setengah dua belasan, "taxi" sampai juga di Sempol. Ketika kami akan turun pak sopir memberikan saran kepada kami untuk turun di Margahayu saja yang berjarak lebih dekat dengan Paltuding. Dan kami pun menyetujuinya tanpa berpikir panjang. :D
Fyi : Sempol dan Margahayu adalah nama kelurahan atau desa terakhir sebelum kita menuju Kawah Ijen. Setelah Margahayu yang akan kita jumpai hanya perbukitan serta kebun kopi dan hutan pinus yang sangat mengagumkan. Disana terdapat terminal yang berupa tanah lapang tempat untuk menurunkan penumpang.
Kami pun turun di terminal Margahayu, setelah sebelumnya membayar sebesar tiga puluh ribu rupiah untuk berdua kepada pak sopir. Ketika turun pak sopir memberitahukan kepada kami, apabila kami ingin berjalan kaki dari Margahayu ke Paltuding jarak tempuhnya hanya sekitar satu jam dengan berjalan kaki.
Wiiiihh... Hanya satu jam berjalan kaki saja?? begitu yang ada dalam pikiran kami berdua, dan dengan mantap kami memutuskan untuk berjalan kaki saja karna perjalanan selama satu jam sangat-sangat dekat menurut kami berdua daripada harus membayar ojek sebesar empat puluh sampai lima puluh ribu per orang.



Setelah turun dari "taxi"


Sekitar empat puluh lima menit kami berjalan kaki, saya mulai merasa kelelahan. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di pinggir jalan. Tiba-tiba ada beberapa motor yang mendatangi kami dan menawarkan jasa ojek sampai Paltuding. Dan kami pun bertanya berapa harga ojeknya sampai ke Paltuding, mereka menjawab “empat puluh ribu rupiah sampai di Paltuding”. Wah, mahal sekali menurut kami karena kami masih memakai asumsi jarak Margahayu ke Paltuding adalah satu jam saja menurut sopir “taxi” kami tadi. Jadilah kami menolak tawaran tukang ojeknya (yang pada akhirnya kami agak menyesal karna menolak tawaran harga tersebut:D)
Kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki kembali. Sejam telah berlalu, belum ada tanda-tanda akan tiba di Paltuding. Kami pun beristirahat kembali. Huufftt..
Sejam kedua telah kami lewati, belum juga menunjukkan ada tanda-tanda akan tiba di Paltuding. Hujan pun mulai turun. Alhamdulillah, kami melihat sebuah gubuk yang ada ditengah sawah. Segera saja kami berlari menuju gubuk tersebut. Di gubuk itu kami bertemu petani yang sedang memanen kentang. Ya, kentang adalah salah satu penghasilan dari petani yang ada di daerah Ijen selain Kubis dan tentu saja kopi Arabica yang ada di daerah Jampit.
Perkebunan kopi Jampit, adalah agrowisata di Bondowoso yang dikelola oleh PTPN VII Kalista Jampit. Luas perkebunan kopi Jampit ini adalah 4000Ha dan terletak pada ketinggian 900 meter dari permukaan laut.



Hujan pun semakin deras, tapi petani-petani itu tetap saja memanen kentang tanpa memperdulikan hujan yang turun sangat deras dan cuaca yang sangat dingin. Kami pun menyempatkan diri untuk berbincang dengan petani-petani itu ketika mereka beristirahat.
Sekitar setengah jam lebih, hujan pun mulai reda dan kami pun berpamitan dengan mereka dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali.
Hujan deras menyambut kedatangan kami

Finally, setelah hampir empat jam perjalanan, tanjakan-tanjakan dan beberapa kali berhenti untuk beristirahat, sampai juga di Paltuding. Paltuding oh Paltuding... Akhirnya kami berjumpa denganmu.
Fyi : jadi kalau teman-teman ingin berbackpacker ke kawah Ijen yang lebih murah tanpa mengeluarkan ongkos ojek sebesar lima puluh sampai enam puluh ribu, bisa mengikuti cara kami yaitu dengan turun di Margahayu-dengan ongkos yang sama seperti Sempol-kemudian bisa dilanjutkan trekking sekitar dua belas kilometer menuju Paltuding dengan pemandangan yang sangat indah sepanjang perjalanan.
Sesampainya disana, kami pun langsung menuju warung yang berwarna hijau yang ada di pojokan jalan. Dan segera kami memesan kopi panas untuk menghangatkan badan kami. Disana kami bertemu dengan beberapa turis yang berasal dari Prancis, mereka baru saja turun dari kawah ketika kami tiba. Dan kami pun berkenalan dengan Pak Nur, guide lokal yang juga masih ada hubungan sodara dengan Pak Amar pemilik warung tempat kami singgah.
Pak Nur ini sangat ramah dan baik orangnya, kami mengobrol banyak tentang berbagai hal termasuk seputar kawah Ijen dan penambang-penambang yang ada disana. Menurut beliau, bulan-bulan yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara sekitar bulan Juni sampai bulan November. Di bulan-bulan itu pengunjung bisa mencapai ratusan per harinya. Dan wisatawan asing yang paling banyak berasal dari negara Prancis dan beberapa negara Eropa lainnya.
Lumayan lama juga kami mengobrol, tak terasa hari semakin gelap. Kami pun memutuskan untuk membuka kamar terlebih dahulu. Ketika kami akan menuju pondok penginapan, ada seorang bule yang mendatangi kami. Dia bertanya apakah kami juga seorang turis yang akan menginap disana. Dan saya jawab tentu saja kami juga akan menginap disini,kemudian kami pun saling memperkenalkan diri. Dia adalah seorang bule yang berasal dari Hungaria tapi kuliah di Australia. Dia datang bersama pacarnya yang orang Birma. Saya lupa nama si bule Hungaria ini (i’m sorry my friend, i forgot ur name :D) sedangkan pacarnya yang orang Birma tapi juga menetap di Australia bernama Pramila Chakma.
Setelah memperkenalkan diri kami pun menuju pondok tempat kami bermalam malam ini. Ternyata hanya ada satu kamar yang tersisa di pondokan itu, dan saya pun akhirnya memberikan kamar itu kepada kedua teman bule yang baru kami kenal itu. Harga dari kamar itu adalah seratus lima puluh ribu rupiah. Karna sudah tidak ada kamar yang tersisa lagi, akhirnya kami pun memutuskan untuk menaruh tas kami di ruang tengah terlebih dahulu. Sebenarnya di pondokan itu ada tiga kamar, tapi yang tersisa tinggal satu kamar. Yang satunya sudah dipesan oleh pasangan bule juga yang laki-laki berasal dari Jerman bernama Sebastian dan yang perempuan bernama Ginga berasal dari Italia. Sedangkan kamar yang satunya lagi terkunci dan kuncinya entah ada dimana kata penjaganya. X_X
Si Pramila dan pacarnya ini datang ke kawah Ijen dengan menggunakan motor setelah sebelumnya mereka mengunjungi gunung Bromo. Ketika tiba saya melihat seluruh pakaian mereka basah, dan mereka ingin menjemur pakaiannya. Saya pun bertanya kepada Pak Nur apakah ada tempat untuk mengeringkan pakaian. Dan Pak Nur pun mempersilahkan kami untuk mengeringkan pakaian di rumah belakang warung Pak Amar. Disana ada semacam perapian yang digunakan untuk memasak juga.
Akhirnya sambil mengeringkan pakaian kami pun saling berbincang-bincang. Ternyata kami bisa cepat akrab dengan mereka. Mereka sangat enak sekali untuk diajak ngobrol. Setelah pakaian mereka sudah lumayan kering, kami memutuskan untuk mencari makan malam terlebih dahulu karena saya dan Haidar terakhir kali makan adalah waktu pagi hari di terminal ketika akan berangkat ke Sempol.
Kami berempat pun menuju warung yang ada didekat lapangan yang ada di Paltuding. Ketika akan menuju kesana kami bertemu dan berkenalan dengan Sebastian dan Ginga. Akhirnya rombongan kami pun bertambah lagi dua orang dengan kehadiran mereka. Saya, Haidar dan si Hungaria segera memesan nasi goreng sedang si Pramila memilih menu mie goreng. Lumayan lahap kami memakan makanan kami, selain karena udara yang lumayan dingin waktu itu kami sudah sangat kelaparan.
Si Hungaria ini adalah seorang mahasiswa yang sedang belajar ilmu bisnis di salah satu universitas Australia, sedangkan pacarnya si Pramila mengambil kuliah jurusan Linguistik. Dan si Sebastian yang berasal dari Jerman merupakan seorang Psikolog yang bekerja di salah satu rumah sakit disana, sedangkan si Ginga pacarnya adalah seorang ahli biologi. Woowww.. Benar-benar senang saya karena bisa bertemu dengan orang-orang hebat yang berasal dari negara lain.
Sekitar pukul sembilan malam, setelah kami selesai makan malam dan ngobrol seru. Kami berenam pun memutuskan untuk kembali ke pondokan untuk beristirahat karena Saya, Pramila, Haidar dan si bule Hungaria akan naik ke kawah sekitar pukul satu pagi karena ingin melihat salah satu keajaiban dunia yang cuma ada di kawah Ijen ini yaitu Blue Fire. Sedangkan si Sebastian dan Ginga akan menyusul setelahnya karena mereka hanya ingin menikmati keindahan sunrisenya saja.
Semenjak sore tadi hujan turun terus, membuat udara semakin dingin saja. Berkali-kali saya terbangun karena kedinginan, tempat tidur kami berdua hanyalah ruang tengah yang beralaskan karpet dengan masing-masing satu bantal dan sarung yang kami bawa dari rumah. Brrrr... Tapi lumayanlah karena kami tidak dicharges penginapan oleh pengelolanya yang membayar hanya teman-teman bule kami. :D
Fyi : Kalau mau penginapan gratis, boleh meniru cara kami juga yaitu berpartner penginapan dengan bule dan rela untuk tidur dengan kedinginan :D
Tepat pukul satu si Hungaria membangunkan kami berdua, kami pun segera bangun dan bersiap untuk trekking menuju kawah Ijen. Setelah kami semua bersiap, kami segera menuju warung Pak Amar dulu untuk bertemu dengan Pak Nur yang menjadi guide kita selama trekking menuju kawah Ijen. Sebelum berangkat kami disediakan teh panas oleh Pak Nur.
Sekitar setengah dua kami pun memulai perjalanan kami, kami adalah rombongan yang pertama berangkat untuk naik ke kawah. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan penambang-penambang belerang. Dari informasi yang diberikan Pak Nur, biasanya penambang-penambang itu mulai beraktifitas sekitar pukul dua belas malam. Sehari mereka bisa bolak-balik hingga tiga kali, dengan beban sekali angkut belerang kurang lebih sekitar tujuh puluh kilogram. Sebuah ironi, dengan pekerjaan yang sangat berat dan sangat beresiko upah yang mereka peroleh hanya sebesar tujuh ratus delapan puluh empat rupiah untuk per kilogram belerangnya.
Dari Paltuding menuju kawah Ijen jaraknya sekitar tiga kilometer, dengan estimasi waktu sekitar dua jam perjalanan (waktu normalnya). Tapi karena saya lumayan sering berhenti untuk beristirahat, akhirnya saya memutuskan untuk menyuruh si bule Hungaria dan Pramila dengan di temani oleh Pak Nur untuk naik duluan. Sedangkan saya dan Haidar berjalan lebih pelan. :D
Fullmoon from the top of Ijen Crater
Sekitar pukul empat seperempat saya dan Haidar tiba di puncak. Hari masih gelap diatas, dan udara semakin dingin. Untungnya kegelapan pagi itu tidak terlalu pekat karena masih ada cahaya bulan penuh yang menemani kami. Kami pun beristirahat sejenak melepas lelah. Ketika kami beristirahat datang seorang bule yang berasal dari Malaysia - yang kemarin sore bertemu di warung Pak Amar - dengan ditemani seorang pemandu.
Dari puncak kawah kami bisa melihat warna biru di bawah kami yang ada di pinggir kawah, warna biru itu adalah Blue Fire yang sangat menakjubkan itu. Jarak dari puncak kawah untuk menuju Blue Fire  sekitar tujuh ratusan meter menuju bawah dengan jalur yang sangat terjal – yang juga merupakan jalur yang dilewati para penambang untuk menambang belerang.
Karena sudah sangat capek, kami pun memutuskan untuk tidak turun ke Blue Fire itu. Sambil menunggu sunrise tiba, kami beristirahat dan tiduran. Pagi itu, udara semakin dingin dengan asap belerang yang sangat pekat. Merupakan perpaduan yang sangat hebat untuk membuat kami sesak napas. Kami hanya berdua di puncak kawah ketika itu, mungkin hanya ada beberapa penambang yang lewat untuk menambang belerang. Sekitar pukul lima pagi kami memutuskan untuk turun dan menunggu mereka berdua di pos penimbangan belerang yang ada ditengah jalur pendakian.
Ketika kami dalam perjalanan turun, saya bertemu dengan Sebastian dan juga Ginga yang baru akan naik. Setelah say “hello” saya berkata akan menunggu mereka berempat di pos penimbangan. Sesampainya disana, saya dan Haidar segera memesan teh panas dan juga popmie untuk menghangatkan badan kami. Sambil menunggu mereka berempat, saya menyempatkan diri untuk mengamati kesibukan para penambang-penambang itu. Sebagian besar penambang itu berasal dari daerah Banyuwangi, banyak dari mereka yang menggunakan bahasa Osing. Sebagian lagi berbahasa Madura.
Kami menunggu kurang lebih sekitar dua setengah jam sampai mereka turun. Selama menunggu, banyak juga bule yang mulai naik, ada yang dari Prancis, Amerika, Jepang dan beberapa dari Eropa. Setelah mereka tiba di pos tersebut, saya menyilahkan mereka untuk beristirahat sambil minum teh terlebih dahulu.
Dawn at Ijen

Sunrise

Lukisan indah
Sekitar pukul sembilan kami berlima - tanpa Sebastian dan Ginga, karena mereka sudah turun duluan – beranjak turun. Perjalanan turun lebih enak menurut saya daripada perjalanan waktu naik, karena tidak membutuhkan tenaga yang terlalu besar. Heheheheee....
Penambang belerang sedang menimbang belerang mereka
Sesampainya dibawah, kami menyempatkan untuk berfoto bersama-sama. Ya, ternyata kami lupa untuk berfoto bersama-sama, palingan waktu kami mau berangkat kami masih menyempatkan foto bersama di depan perapian. Setelah berfoto bersama, kami pun segera berkemas-kemas. Sebastian dan Ginga akan melanjutkan perjalanan menuju Bromo, teman kami si Hungaria dan pacarnya akan melanjutkan perjalanan menuju pantai Sukamade di Banyuwangi, sedangkan saya dan Haidar akan kembali ke Surabaya.
Waktu berpisah pun tiba, berat sekali rasanya untuk berpisah dengan mereka berempat terutama dengan si Hungaria dan pacarnya yang sudah seperti teman lama bagi saya. Rombongan yang pertama berangkat adalah si Sebastian dan Ginga. Kemudian dilanjut dengan si Hungaria dan pacarnya. Sedangkan saya dan Haidar masih menunggu mobil dari sodara pak Amar yang akan mengantar kami sampai di Sempol. Kami merasa waktu begitu cepat berlalu, setelah bertukar alamat e-mail dan saling berjanji untuk mengunjungi rumah kami masing-masing, akhirnya kami pun berpisah.
Pukul sebelas akhirnya saya dan Haidar berangkat menuju Sempol, setelah berpamitan dengan keluarga pak Amar dan pak Nur. Saya mengucapkan banyak terima kasih buat pak Amar dan pak Nur yang telah menjamu dan melayani kami dengan sangat ramah ketika kami berada disana. Ternyata, perjalanan dari Paltuding ke Sempol dengan menggunakan mobil sangat singkat, hanya sekitar empat puluh menitan saja bandingkan dengan perjalanan kami kemaren yang sampai empat jam perjalanan. :D
Berfoto didepan penginapan kami sebelum berpisah
Sesampainya di Sempol kami diturunkan di halte untuk berganti dengan “taksi” yang akan membawa kami ke terminal Bondowoso. Setelah menunggu sekitar dua jam lebih ternyata “taksi”nya tidak juga datang, kami mulai panik karena hari mulai beranjak sore. Untung saja ada mobil pick up yang lewat, saya pun berinisiatif untuk memberhentikannya dan meminta tumpangan sampai ke terminal.
Pukul setengah empat sore kami tiba di terminal Bondowoso. Tempat yang saya tuju untuk pertama kali nya adalah toilet umum, yah, toilet umum karena sejak semalam saya belum buang air kecil (semoga problem pompa air yang ada di Ijen segera terpecahkan). Tepat pukul empat sore, bus yang akan membawa kami kembali ke Surabaya berangkat. Sore itu kami menggunakan bus Akas yang akan langsung menuju Surabaya tanpa perlu berganti bus di Probolinggo terlebih dahulu seperti waktu kami berangkat kemarin. Harga tiket bus Akas ini adalah dua puluh delapan ribu rupiah saja, lebih murah dua ribu daripada perjalanan bus kami waktu berangkat.
Pukul sepuluh malam kami sampai di terminal Bungurasih Surabaya, kami pun segera menuju tempat parkir motor untuk mengambil motor dan kemudian mampir untuk makan malam dan minum STMJ terlebih dahulu karena sejak pagi kami belum makan apa-apa. Heheheee...
Sesampainya dirumah saya segera bersih-bersih dan beristirahat dan berakhir pula perjalanan saya kali ini....

Friday, March 1, 2013

Escape to the East, goes to Ijen Crater (Part 1)


Yeeaaahh..
My another journey begin..
Pagi ini 26 Februari 2013, Saya dan Haidar menyusuri jalanan menuju ke arah timur pulau Jawa dengan menggunakan bus ekonomi. Dari rumah kita naek motor, sesampainya di Bungurasih, terminal kebanggaan warga Surabaya-yang sebenarnya terletak di wilayah Sidoarjo-sekitar pukul setengah sembilan pagi. Langsung menuju tempat parkir bus arah Probolinggo, tempat transit kita untuk berpindah bus ke arah Bondowoso. Tersebutlah disana sebuah bus yang bernama "Sabar Indah" yang sudah tidak sabar untuk berangkat, tanpa tunggu lama langsung aja kita masuk ke bus yang akan mengangkut kita. Harga karcis bus ekonomi Surabaya-Probolinggo adalah sebesar Lima Belas Ribu Rupiah saja. Alhamdulillahnya lagi, kursinya masih banyak yang kosong. :D
Sekitar setengah sebelas kita masuk terminal Bayu Angga Probolinggo, sesampainya disana kita langsung pindah ke bus "Ladju" yang akan membawa kita menuju Bondowoso. Harga karcis bus ekonomi Probolinggo-Bondowoso adalah sebesar Dua Belas Ribu Rupiah. Perjalanan Probolinggo-Bondowoso sekitar empat jam perjalanan menggunakan bus. Sesampainya di terminal Bondowoso kita langsung mencari "taxi" - sebutan untuk kendaraan Elf ato L300 - yang akan membawa kita ke Sempol. Tapi, sayang sekali sodara-sodara!!! "Taxi" terakhir sudah berangkat sejak siang tadi. Ternyata kita kesorean bradeerrr.. :'(
Dan hujan pun turun dengan lebatnya... Huuffttt...
Tenang, don't be panic!!
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melihat sekeliling.. Kemudian obyek yang kita cari berikutnya adalah....
Jreeeng.. Jreeeng... Jreeeeng...
WARUNG MAKAN... :D
Hahahahaa...
Setelah ketemu segera saja kita menuju warung makan tersebut ditengah guyuran hujan.
"Sebentar.. Sebentar..." Terdengar suara misterius yang ingin bertanya kepadaku, dan aku pun menjawab" ya, kenapa?" "Ini tadi apa hubungannya antara ketinggalan "TAXI" sama WARUNG MAKAN, hah??" Kata si suara misterius. "Oh, kirain mau tanya apaan.." Kataku. "Jadi??" Si suara misterius bertanya kembali. "Ya tentu saja berhubungan dong, jadi gini ketika kita berada di kota orang yang bisa dikata TERSESAT ato semacamnya setelah melakukan perjalanan, kita harus mencari warung ato tempat makan untuk mengisi perut kita terlebih dahulu.. :D Nah setelah perut kita keisi barulah kita bisa berpikir dengan jernih dan salah satunya adalah bertanya kepada penjual warungnya.. Heheheee.." Sahutku sekenanya. "Hmmm.. Jawaban yang aneh..." kata suara misterius itu *dan suara itu pun menghilang dengan sendirinya. Akhirnya setelah selesai makan kita bertanya kepada pemilik warung tempat menginap yang dekat dengan alun-alun. Kenapa saya memilih dekat dengan alun-alun?? karna di alun-alun kita bisa berinteraksi dan berkenalan dengan penduduk lokal. Heheheee...
Dari rekomendasi pemilik warung kita diarahkan ke hotel Slamet yang jaraknya lumayan dekat dengan alun-alun dan berada ditengah-tengah antara teminal dan alun-alun Bondowoso. Berhubung hujan lumayan deras, kita menuju hotel menggunakan becak dengan ongkos sepuluh ribu Rupiah. Tapi sayang, becak disini sepertinya lebih kecil daripada becak di Surabaya. (Ato saya yang kegedean ya :D)
Setelah Check-in, kami bergegas untuk menuju kamar untuk membersihkan badan dan sholat sambil beristirahat. Waktu menunjukkan pukul lima lebih, kami memutuskan untuk jalan-jalan sore menikmati kota Bondowoso. Ternyata di luar hujan masih turun rintik-rintik. Kami mengitari alun-alun yang tidak terlalu besar, tapi lumayan tertata rapi tamannya. Karna tidak ada yang menarik perhatian, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Hotel kami berjarak hanya seratus meter dari alun-alun, sangat dekat sekali bukan? Sesampainya di hotel si Haidar sepertinya masuk angin - mungkin gara-gara kehujanan waktu di terminal - kami mampir ke Alf*ma*t untuk membeli minuman dan obat sakit perut, karna ternyata si Haidar sejak dari rumahnya terkena diare. X_X
Sore di Bondowoso

Malamnya sekitar pukul setengah delapan, karna bete dikamar saya memutuskan untuk jalan-jalan keliling kota. Sedangkan Haidar karna masih belum sehat terpaksa saya tinggal dikamar sendirian :D Mengelilingi Bondowoso dengan berjalan kaki tidak memerlukan waktu lama. Tujuan utamaku adalah mencari kuliner khas Bondowoso selain tape untuk makan malam. Tapi apa mau dikata sepanjang jalan yang saya lewati, yang ada hanya orang jualan nasgor duk-duk, sate Madura dan penyetan. Akhirnya saya memilih nasgor yang ada didepan hotel kita, murah meriah cuma enam ribu rupiah. Hehehee.. Setelah perut kenyang saya pun kembali ke hotel dan beristirahat untuk mempersiapkan kondisi keesokan harinya.
Suasana malam di kota Bondowoso

To Be Continued.....

Monday, February 25, 2013

One Day in Mangrove Forest with Rumah Tahfiz Semolowaru


Hai, ketemu lagi di bulan kedua di tahun 2013 ini...
Di penghujung bulan Februari ini, ada sebuah trip yang kulakukan dengan adek-adek dari Rumah Tahfiz Semolowaru. Trip jarak pendek, hanya di dalam kota Surabaya saja. Tujuannya adalah mengunjungi kawasan konservasi  hutan Mangrove  yang terletak di daerah Wonorejo Surabaya.
Mingggu pagi tanggal 24 Februari 2013, sekitar pukul 7.30 aku berangkat dari rumah dengan menggunakan mobil pribadiku. Tujuan pertama adalah menjemput adek-adek Rumah Tahfiz di pondoknya di daerah Semolowaru Elok. Sesampainya disana ternyata Haidar,sahabat yang juga satu tim pengajar denganku - untuk memberikan tambahan pelajaran buat adek-adek Rumah Tahfiz – sudah sampai di pondok juga. Setelah tiba, kami berdua pun langsung masuk, dan mereka pun ternyata sudah siap untuk berangkat.
SEBENTAR!!! Tenyata kita belum bisa berangkat, karena eh karena mbak Fanianya – masih satu tim pengajar – belum datang. Dan ternyata pas aku telpon orangnya baru bangun tidur. X_X (Horeee banget kan ya...??) Padahal pas janjiannya kemaren Dia yang ngajak untuk sudah nyampe di pondok jam 8 teett.
Akhirnya, setelah menunggu sekitar satu jam plus-plus, ya satu jam plus dua puluh lima menit tepatnya, yang ditunggu-tunggu dateng juga.. :D Tepat pukul 9.30 akhirnya kita berangkat juga satu rombongan berenam belas.
Dengan waktu tempuh sekitar 15 menit saja dengan mobil akhirnya kita sampai di hutan Mangrove Wonorejo. Setelah memarkir mobil kita langsung menuju tempat pembelian loket perahu dan membeli tiketnya. Untuk orang dewasa harga tiket sebesar Dua Puluh Lima Ribu Rupiah, sedangkan untuk anak-anak usia 6-12 tahun harga tiket sebesar Lima Belas Ribu Rupiah saja.
Sambil menunggu datangnya perahu kami menyempatkan untuk berfoto dan melihat-lihat di sekitar dermaga mangrove. Di sebelah kiri pintu masuk dermaga terdapat seekor ular Sanca yang berukuran lumayan besar didalam kandangnya. Sayangnya si ular sedang tidur dan pengelola sepertinya tidak memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk bisa berfoto dengan sang ular.
Sambil menunggu perahu berpose dulu

Setelah menunggu sekitar lima belas menit, perahu yang akan mengantarkan kami menyusuri hutan mangrove Wonorejo datang juga. Kami pun segera naik ke dalam perahu, serombongan dengan kami terdapat dua keluarga kecil dan juga rombongan mahasiswa dari ITS.
Perjalanan menyusuri hutan bakau ini sekitar dua puluh menitan untuk sampai di muara sungai yang langsung berbatasan dengan laut. Setibanya di ujung sungai, perahu menepi di dermaga untuk kemudian kami turun dan trekking menyusuri hutan bakau menuju anjungan lepas pantai yang agak menjorok ke tengah laut.
Jalur trekking kami adalah sebuah jembatan yang terbuat dari anyaman bambu, yang  dalam bahasa Jawanya adalah gedek atau besek. Yang berjarak kurang lebih sekitar empat ratus sampai lima ratus meteran untuk menuju anjungan yang ada di tengah laut.
Zilla didalam perahu

Setelah puas beristirahat dan berfoto-foto di anjungan, kami pun segera kembali ke perahu untuk pulang. Anjungan ini terdiri dari dua buah gazebo, yang satu sejajar dengan jembatan trekking yang kita lalui dan satu lagi terletak lebih tinggi semacam menara pandang setinggi kurang lebih lima sampai enam meteran.
ki-ka : Mutaya, Mia, Hana, Putri, Ms. Fania

bersantai di gazebo
si imut Hana

Anies in pose

Cuaca yang tidak menentu menjadi teman perjalanan kami selama trip ini. Ya, cuaca yang awalnya panas ketika kami datang berubah menjadi hujan ketika kami melakukan trekking. Sesampainya kami di anjungan cuaca berangsur-angsur menjadi panas dan cerah kembali. Tetapi ketika kami akan kembali ke perahu, hujan deras menyapa kami kembali bahkan lebih deras dari hujan yang sebelumnya ketika kami datang. Mungkin ini semacam ucapan selamat datang dari hutan mangrove bagi rombongan kami. :D
Perjalanan pulang

Setibanya kami di dermaga, kami beristirahat sebentar sambil duduk-duduk dan memakan perbekalan kue yang kami bawa. Ternyata karena terlalu asyik berfoto dan menikmati pemandangan kami lupa untuk memakannya, jadilah kue-kue itu hanya kami bawa berkeliling naik-turun perahu dan trekking sambil berhujan-hujan ria. X_X
Sekitar pukul satu siang kami kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan berikutnya, yaitu MAKAAAN SIANG!! Hahahaaaaaa.... :D Tempat kami makan siang adalah Gado-gado Cak Yul yang ada dijalan Rungkut Madya. Pemiliknya adalah Cak Yul yang merupakan temanku sesama komunitas bisnis Bravo Surabaya - yang sedang mengadakan promo “BUY ONE GET ONE” - dalam rangka grand opening warung gado-gadonya ini.
Setelah selesai makan siang, kami pun pulang kembali ke pondok karena hari sudah semakin sore. Dan berakhirlah trip kami hari itu. Ini adalah trip keduaku bersama adek-adek dari Rumah Tahfiz Semolowaru, trip sebelumnya kami lakukan sekitar pertengahan Oktober 2012 di Taman Safari Indonesia II prigen(mungkin akan ku ceritakan di lain waktu).

Tuesday, January 8, 2013

Perjalanan di Awal 2013



Assalamualaikum...
Lama juga nih ga ngeblog, iseng2 mumpung ada cerita yg bisa dishare di awal taun ini.. Tentang perjalanan yang saya lakukan dengan mas Dedy pas tanggal 1 Januari 2013 kemaren.. Tujuan utama dari perjalanan kali ini adalah perjalanan silaturahmi.. Ya sud daripada berbelit belit langsungan aja dimulai ceritanya..

Surabaya, 1 Januari 2013.
Saya sama mas Dedy berangkat dari terminal bungurasih ke kota Sragen yang merupakan tempat pemberhentian pertama kami. Dengan menggunakan bis ekonomi ac seharga Rp 27,5k/org kami berangkat pukul 8 malem, nyampe di Sragen sekitar pukul 2 pagi, Sampe disana kami menghubungi seorang teman disana yg juga seorang pengusaha kuliner dan laundry bernama Teguh.. Dan bermalamlah (eh salah ber pagilah..) kami di salah satu restonya yang terletak dibelakang kantor DPRD Sragen..  Setiba di restonya kami dibuatkan makanan dengan menunya adalah kakap sambel ijo dan juga bihun seafood (berasa makan sahur dah waktu itu, karna waktu menunjukkan sekitaran pukul 3 pagi.. heheheee..) oh ya kalo lg di Sragen kami rekomendasiin utk nyobain mampir ke restonya ini, highly recommended!!!


Setelah selesai makan sambil menunggu azan Subuh kami berisitirahat sejenak..
Kemudian pada pagi harinya sekira pukul 9an qta berdua diajak oleh kawan saya ini si Teguh utk mencicipi panganan khas Sragen yaitu soto yg berkuah bening, hampir semacam sop tapi disana disebut soto.. Kemudian setelah puas menikmati salah satu panganan khas Sragen qta diajak berkeliling lagi untuk melihat usaha yg lain dari si Teguh ini..

Sragen 2 Januari 2013.
Pukul 10 pagi kami berdua melanjutkan perjalanan menuju Solo, menggunakan bus bumel perjalanan Sragen – Solo kami tempuh kurang lebih 1 jam an.. Memasuki kota Solo saya menghubungi teman saya yang lain yang bernama Albert yang kebetulan sedang mudik ke Solo. Sesampainya disana kami diajak makan siang makanan khas Solo yaitu timlo Solo. Setelah menikmati timlo Solo kami diantar untuk menemui kawan kami yang lain karna pada saat itu si Albert masih ada urusan yang lain. Kami diantar ke daerah stadion Manahan  Solo, tepatnya di sebuah angkringan yang berbentuk cafe yang bernama Kafedangan. Disana kami bertemu dengan teman kami yang juga salah seorang mentor di salah satu komunitas bisnis terbesar di Indonesia yaitu Entrepreneur University yang bernama Yusuf Shembah. Beliau juga penulis buku best seller yang berjudul Brokerpreneur.

Malamnya kami bermalam dirumah mas Shembah tersebut. Sesorean itu Solo hujan terus dan kami berniat untuk mencari STMJ agar badan kami agak hangat. Berangkatlah kami mencari yang anget2.. hehehee.. Awalnya kami berencana menuju Shijack yaitu warung yang berjualan Susu segar dan semacamnya yang sudah cukup terkenal di Solo dan sekitarnya. Tapi ternyata kami kurang beruntung malam itu karna warungnya tutup. :(
Akhirnya kami mencari STMJ yang lain disekitar situ.
Setelah puas kami kembali kerumah untuk beristirahat.

Solo, 3 Januari 2013.
Perjalanan hari ke 3 kami lanjutkan menuju kota Salatiga tapi transit di Klaten dan Prambanan terlebih dahulu untuk bertemu dengan kawan kami yang lain.
Kami berangkat dari rumah Shembah pukul 9 pagi setelah menghabiskan breakfast yang telah disediakan oeh tuan rumah :D
Denga menggunakan bis ekonomi kami menuju kota Klaten sekitar 30 km dari kota Solo. Sesampainya di Klaten kami bertemu dengan seorang mentor lainnya yang banyak mengajarkan kami tentang bisnis yang jauh dari riba. Sebuah ilmu yang sangat berharga didalam perjalanan ini. (untuk ilmu tentang riba ini mungkin akan saya share di lain waktu ya.. :D)
Perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Prambanan (lagi-lagi) dengan bus bumel.. heheheee...

Sesampainya di Prambanan sambil menunggu teman kami lainnya yang juga mentor EU kami menyempatkan untuk Sholat Ashar karna sudah masuk waktu Ashar.. *Fyi : kami merapat di Prambanan karna menunggu teman kami, mas Ebo yang akan mengajak kami untuk ke Salatiga yang akan mentoring di EU Salatiga, jadi bukan untuk menikmati keindahan Prambanan.. :D
Kami tiba di Salatiga sekitar pukul 7 malam-setelah sebelumnya mampir untuk makan tengkleng,makanan khas Solo-dan langsung menuju tempat mentoringnya mas Ebo. Sekira pukul 2 pagi mentoring mas Ebo kelar, dan kita diajak untuk mencoba salah satu panganan khas Salatiga yaitu nasi Tumpang kowor yang terletak di depan Hotel Grand Wahid Salatiga. Setelah perut kenyang kami pun beristirahat di hotel tersebut.

Salatiga 4 Januari 2013.
Sekitar pukul 9 pagi setelah kami selesai breakfast, kami memutuskan untuk Check Out dan melanjutkan perjalanan kembali ke Solo.
Sesampainya kembali di Solo kami langsung menuju Masjid karna sudah masuk waktu Sholat Jumat. Setelah sholat Jumat kami kembali ke rumah Shembah dan beristirahat sejenak sambil mencharges hp. Sorenya kami berinisiatif untuk jalan-jalan keliling kota Solo naik motor. Tujuan kami adalah Masjid Agung Keraton Surakarta dan juga kampung batik yang ada didekat masjid tersebut.

Setelah puas berjalan-jalan kami mencicipi salah satu kuliner khas Solo kembali yaitu Kupat tahu, yang terdiri dari irisan kubis, lontong kupat, kacang yang digoreng dan tentu saja dengan tahu gorengnya dengan guyuran kuah seperti kuah pempek.
Malamnya kami mampir di Shijack, warung susu segar yang sangat kami ingin kunjungi sejak awal kami tiba di Solo. Memesan 1 gelas STMJ coklat dan mengambil 2 nasi kucing beserta beberapa lauk yang sudah tersaji disana.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 11 malam, tiba saatnnya kami untuk pulang kembali ke Surabaya. Kami langsung menuju terminal dan ternyata diluar dugaan kami terminal juga lumayan rame pada malam itu.

Karna ingin sedikit bersantai di bus kami menunggu bus Eka, yaitu bus eksekutif karna selama perjalanan kali ini kami selalu menggunakan jasa bus ekonomi. Hehehee..

Ternyata penantian kami akan bus Eka lumayan lama juga, karna jam 3 pagi bus yang kami tunggu baru nongol. X_X

Alhamdulillah, sekitar pukul 11 siang saya tiba dengan selamat dirumah. Sebuah perjalanan yang sangat mengesankan bagi saya pribadi karna bisa bersilaturahmi dan mengunjungi banyak kota di daerah Jawa Tengah. Sampai jumpa di catatan perjalanan saya lainnya. Insya Allah bila Allah menghendaki saya bercita-cita untuk backpackeran keliling Indonesia di 2013 ini.

Follow me @Anugrah_Ebtanto